"Pergi periksa, apa identitas istriku yang sebenarnya?"
"Tuan, Nyonya adalah dokter jenius, pembalap jenius, dan komposer super!"
********
Bab1 Bulan Kedelapan Masa Kehamilan
Plak!
Wajah Wina Karta menerima sebuah tamparan. Pipi wanita itu terasa sakit dan telinganya berdengung. Bisa dibayangkan betapa keras tamparan yang dia terima.
Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang. Satu tangannya secara naluriah melindungi perutnya yang membuncit sementara tangan yang lain memegang pipinya yang mulai bengkak.
"Wina, dasar wanita jalang yang tidak punya perasaan! Beraninya kamu melakukan perbuatan kejam seperti ini pada Nina? Sejak kami bergabung menjadi bagian dari keluarga ini, kamu selalu mencari-cari kesalahan kami. Sekarang kamu malah membuat Nina terluka parah dengan menggunakan pisau... Jika putriku sampai mengalami sesuatu yang buruk, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu, Wina Karta!"
Setelah berteriak histeris Sari Handini kemudian berbalik dan berjalan ke ruang tamu.
Wanita paruh baya itu berjongkok ke lantai dan menggendong putrinya yang bersimbah darah.
"Ini bukan salahku! Aku tidak pernah menyentuh Nina!" Wina mencengkeram lengan baju Hadi Surino dengan erat, seolah itu adalah penyelamat terakhirnya. "Hadi, percayalah padaku! Aku benar-benar tidak melukai Nina!"
"Bukan perbuatanmu?" tanya Hadi. Pria itu melepaskan cengkeraman Wina dan memelototinya dengan tatapan tajam. "Tidak ada orang lain di dalam ruangan ini selain kalian berdua! Apakah kamu berusaha mengatakan bahwa Nina sengaja melukai dirinya sendiri menggunakan pisau buah?"
"Tapi memang Nina pelakunya! Dia yang menusuk dirinya sendiri!"
"Dasar wanita jalang! Pergi ke neraka sana!"
Hadi sangat marah saat mendengar Wina mencoba untuk membela diri. Dia sudah tidak tahan lagi.
Hadi mengangkat salah satu kakinya lalu menendang perut buncit Wina dengan sekuat tenaga. Tendangan itu membuat dirinya tersungkur ke belakang. Perut wanita itu membentur sudut meja, mengirimkan rasa sakit yang tajam ke sekujur tubuhnya.
"Ah!"
Wina menjerit kesakitan dan jatuh ke lantai, tangannya memeluk perutnya. Wina berusaha melindungi bayi yang ada di dalam kandungannya tapi usahanya terasa sia-sia saja.
Dia bisa merasakan sesuatu yang panas dan basah mengalir di kakinya.
Wina merasa ketakutan dan putus asa.
"Hadi..."
"Selama ini aku sangat buta telah menolak adikmu yang baik hati dan memilih bersama dengan wanita berhati kejam sepertimu, Wina!"
Hati Wina langsung terasa dingin. Kata-kata yang Hadi ucapkan terasa sangat menyakitkan. Seluruh dunianya hancur seketika.
Satu jam yang lalu, dia sedang menunggu kedatangan Hadi yang akan membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin kehamilan. Namun Nina tiba-tiba datang, Lalu menunjukkan foto mesra dengannya.
"Hadi dan aku sudah lama saling mencintai!" Nina berkata dengan nada mengejek. "Dia sudah tidak mencintaimu lagi!
Apakah kamu ingin tahu mengapa dia belum putus dengan wanita seperti dirimu? Apakah kamu pikir karena kamu sedang mengandung bayinya? Ha ha ha! Berhentilah bermimpi! Apa kamu pikir aku akan membiarkan dirimu mengandung bayi Hadi? Bayi yang sedang ada dalam kandunganmu saat ini bukan darah daging Hadi!
Akulah orang yang paling mencintainya di seluruh dunia!
Dan aku bersedia untuk melakukan apa pun agar bisa berada di sisi pria yang aku cintai!"
Tidak lama kemudian, Wina melihat dengan mata kepala sendiri apa yang Nina maksud dengan "bersedia melakukan apa pun". Dia bahkan tidak sempat bereaksi untuk mencegah. Saat bel pintu berbunyi, Nina berlari mengambil pisau dari dapur lalu menusukkan pisau itu ke perutnya sendiri.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat, Sari bergegas menuju ke tempat kejadian lalu berteriak dengan keras. Teriakan Sari menarik perhatian Hadi yang langsung menendang pintu depan untuk masuk ke ruang tamu.
Dan di sinilah mereka sekarang. Tiga orang berhati kejam melawan Wina yang tidak berdaya.
Wina membalikkan badan untuk melihat keadaan Nina.
Wanita bermuka dua itu sedang terbaring di pelukan sang ibu. Terlihat lemah dan tidak berdosa, darah mengucur dari luka perutnya. Saat Hadi dan ibunya tidak melihat, Nina memberikan senyuman penuh kemenangan pada Wina.
Wina sungguh tidak percaya pada kejadian yang sedang dia alami.
Bagaimana mungkin seseorang tega menyakiti dirinya sendiri hanya untuk mencapai tujuan mereka?
Rasa sakit terus mendera perut Wina.
Darah masih mengalir di antara kaki Wina!
Saat ini wajahnya terlihat pucat karena telah kehilangan banyak darah. Wina mengulurkan tangan ke arah Hadi dan memohon dengan putus asa. "Hadi, bayi kita, tolong bayi kita..."
"Bayi itu bukan milik kita! Anak dalam kandunganmu itu hanya milikmu sendiri!"
"Apa? Kamu bilang apa?"
"Mungkin ada baiknya aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi!" Pria itu berjalan ke arah Nina lalu memeluknya dengan lembut. Raut wajah Hadi dipenuhi rasa khawatir. "Bukan aku yang b****nta denganmu pada malam pernikahan sepupumu delapan bulan yang lalu!"
Wina melebarkan matanya dengan ngeri. Perkataan Hadi ini bagaikan petir di siang bolong.
"Tidak mungkin! Kamu pasti sedang berbohong."
"Aku menghabiskan sepanjang malam bersama Nina. Saat itu dia masih sangat muda dan impulsif. Dia mencampur obat ke dalam gelas anggur yang kamu pegang dan mencari seorang gigolo untuk menemanimu. Apa kamu ingat, saat itu kamu memutuskan untuk tinggal di vila dekat gunung setelah pesta pernikahan selesai? Nina menceritakan semuanya saat aku tiba keesokan harinya. Aku takut kamu akan melapor pada polisi saat mengetahui perbuatan Nina itu. Bagaimana mungkin aku membiarkan wanita yang aku cintai memiliki catatan kejahatan? Itu sebabnya aku memutuskan untuk membiarkan kamu percaya bahwa kita telah tidur bersama pada malam itu. Tapi semua itu adalah sebuah kebohongan!"
"Nina masih sangat muda... dan sedikit impulsif?" Wina bergumam tak percaya, suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar bergetar. Dan kemudian dia mulai berteriak keras. "Lalu bagaimana dengan nasibku? Kalian tidak berhak membuat diriku kehilangan keperawanan yang telah aku jaga selama bertahun-tahun. Apa hak kalian untuk membuatku mengandung anak dari pria yang tidak aku kenal? Mengapa kalian tega menjebakku seperti itu?"
Sambil memeluk Nina dengan lebih erat lagi, Hadi menatap Wina dengan tatapan meremehkan. "Aku ingin segera putus denganmu setelah kejadian malam itu! Tapi aku sedikit ragu karena kita telah menjalin hubungan selama tiga tahun. Selama ini aku selalu berpikir bahwa kamu adalah seorang gadis yang lugu dan baik hati. Jadi aku tidak bisa memaksa diri untuk menyakitimu saat itu. Tapi sekarang aku tahu bahwa wajah lugu dan sikap lemah lembut milikmu itu palsu! Hari ini kamu bahkan berani mencoba untuk membunuh Nina!
Wina, anggap saja aku sangat bodoh karena tidak bisa lebih cepat melihat wajah aslimu. Mari kita akhiri semuanya sekarang. Mulai saat ini, kita tidak punya hubungan satu sama lain lagi!"
Setelah selesai berbicara, Brian meninggalkan ruangan sambil menggendong Nina yang sedang terluka parah. Pria itu bahkan tidak melirik ke arah Wina sedikit pun.
Rasa sakit di perutnya semakin bertambah kuat dari menit ke menit. Darah masih mengalir dan Wina mulai merasa kepalanya pusing.
Dia berbaring di lantai keras yang dingin dan mengusap perutnya yang buncit. Air mata tidak berhenti mengalir di wajahnya. Kebencian yang dia rasakan dalam hatinya saat itu sangat besar. Wina sangat membenci mereka!
Saat mendapat berita kehamilan, Wina merasa sangat bahagia karena dia mengira akhirnya dia memiliki buah cinta dengan pria yang ditakdirkan untuknya. Dirinya telah menantikan waktu kelahiran malaikat kecil dan bahkan berkali-kali membayangkan seperti apa wajah anak mereka nantinya. Apakah bayi mereka akan terlihat seperti dirinya, atau Hadi?
Tapi sekarang pria yang sangat dia cintai mengatakan bahwa semuanya hanyalah sebuah kebohongan belaka.
Orang-orang tidak punya hati itu... Mengapa mereka bisa menipu dirinya seperti ini!
Brakk!
Terdengar suara pintu dibanting menutup.
Wina menutup mata dengan putus asa, tetapi ada sebuah bayangan menjulang di atas tubuhnya.
Dia segera membuka mata dan menyadari Sari sedang menatapnya dengan tatapan kejam. "Apakah saat ini kamu merasa sangat kesakitan? Ini baru permulaan!"
"Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu belum cukup menyakiti diriku? Tidak!"
"Apa yang ingin aku lakukan berikutnya? Tentu saja aku akan menyingkirkan rintangan yang menghalangi kebahagiaan putriku!"
Wina dipenuhi oleh rasa takut. Dia mencoba menjauhkan diri dari wanita yang lebih tua itu. "Apakah kamu berencana untuk membunuhku? Kamu akan menjadi seorang pembunuh!"
"Apa kamu bilang? Pembunuhan? Ha ha ha! Kamu jatuh dan menabrak sudut meja yang mengakibatkan pendarahan hebat dan akhirnya keguguran. Jika hal itu terjadi, maka kematian dirimu tidak ada hubungannya denganku!"
Setelah selesai berbicara, Sari menginjak perut Wina dengan mengerahkan seluruh kekuatan pada tumitnya.
"Ah! Berhenti!" Aku mohon, berhentilah!"
"Jangan salahkan aku, Wina! Kamu adalah putri Lily Setiawan. Kalian berdua hanyalah pelacur yang membuat kesalahan dengan menghalangi kepentinganku dan Nina! Lily menghalangi kepentinganku, jadi aku memutuskan untuk membunuhnya. Dan sekarang kamu menghalangi kebahagiaan putriku. Jadi aku akan membunuhmu juga!"
Terlepas dari rasa panik yang melanda dirinya, Wina masih terkejut saat mendengar informasi yang diberikan oleh Sari.
"Kamu yang membunuh ibuku?"
"Memangnya kenapa? Apa yang bisa kamu lakukan sekarang?" Sari terus menendang perutnya dan menyeringai puas saat mendengar Wina berteriak kesakitan. "Aku melemparkan ibumu yang menyedihkan ke laut untuk menjadi makanan ikan hiu! Bukankah kalian sangat mencintai satu sama lain? Aku akan segera mengirimmu untuk menemaninya di neraka!"
Sari menendang perut Wina lagi, dan lagi, dan lagi.
Wina bisa merasakan tubuhnya menjadi dingin, dan perlahan-lahan dia mulai kehilangan kesadarannya. Dia menjadi mati rasa dan tidak bisa merasakan rasa sakit di perutnya lagi.
Bau metalik darah yang sangat kuat menyeruak ke udara. Gaun putih yang dikenakan oleh Wina sekarang berwarna merah tua.
Mata Wina dipenuhi oleh kebencian yang mendalam saat pandangannya berubah menjadi gelap.
Bab2 Kembali Bersama Malaikat Kecilnya
Tiga tahun kemudian, di bandara kota Palau...
Para penumpang yang baru saja keluar dari pesawat sedang mengantri untuk mengambil barang bawaan mereka.
Di antara kerumunan itu ada seorang wanita cantik yang berdiri dengan elegan. Dia sangat menarik perhatian, seperti kristal yang bersinar. Setiap orang yang berpapasan dengan wanita itu pasti menolehkan kepalanya.
Para pria memandangnya dengan tatapan mata penuh kekaguman, sementara mata para wanita berkilat karena rasa iri.
Gaun merah yang membalut tubuhnya menonjolkan warna kulit wanita itu yang seputih porselen.
Wajahnya terlihat seperti sebuah pahatan karya seniman terkenal. Dia memiliki bibir yang indah, mata yang dalam, dan alis yang sempurna.
Wanita itu juga memiliki payudara yang berukuran besar, memuat imajinasi pria yang melihatnya menjadi liar.
Pinggang rampingnya adalah idaman para wanita.
Dan seperti kebanyakan model lainnya, kaki wanita itu sangat ramping dan panjang. Sepasang kaki yang nyaris sempurna itu dapat menaklukkan panggung peragaan mana pun di seluruh dunia.
Dia terlihat sangat seksi, mempesona, dan penuh rasa percaya diri––kombinasi yang lebih mematikan daripada obat terlarang.
Namun, meskipun wanita itu menarik perhatian hampir semua pria di bandara, tidak ada pria yang berani mendekati karena ekspresi dingin dan tegas yang terpapar di wajahnya.
"Mami!" panggil anak laki-laki yang sedang berdiri di sisinya.
Seketika itu juga, ekspresi dingin di wajah sang ibu berubah seperti salju yang terpapar sinar matahari, meleleh dalam sekejap. Wanita itu membungkuk lalu mengangkat anak laki-laki itu dalam gendongannya. Melihat wajah anaknya yang sangat imut, dia tidak bisa menahan diri dan mencium pipi bulatnya berkali-kali dengan gemas.
Telinga anak kecil itu langsung berubah menjadi merah.
Wina merasa geli melihat reaksi bocah itu.
"Paman Angga mengirim pesan di WhatsApp. Dia berkata bahwa dirinya sudah menunggu di tempat parkir dan meminta kita untuk segera pergi ke sana setelah kita mendarat," bocah itu memberi tahu dengan raut muka serius.
"Baiklah!"
Melihat orang banyak yang mengawasi mereka berdua, anak laki-laki itu mengerutkan kening, seolah mengatakan bahwa tidak ada yang diizinkan untuk mendekatinya.
Namun, bagaimana mungkin wajah kecil yang imut seperti itu tidak menarik perhatian orang di sekitar mereka?
Mata para wanita berbinar melihat tingkah laku menggemaskan anak itu.
'Ya ampun! Anak ini imut sekali!' teriak beberapa orang dalam hati.
Anak laki-laki itu tampak baru berusia tiga atau empat tahun, tetapi orang lain bisa membayangkan wajahnya yang sangat tampan saat dia dewasa nanti. Dia memiliki rambut hitam legam dengan poni tipis menutupi dahinya. Di bawah alisnya yang sempurna, terdapat mata yang bersinar, hidung yang mancung, dan bibir yang merah seperti buah ceri. Bocah itu tampak seperti seorang model yang keluar dari sampul majalah.
Para wanita menaruh tangan di dada mereka.
Mereka tersentak kagum ketika mereka melihat anak itu berjalan menuju ke pintu keluar.
Anak ini manis sekali! Semua orang benar-benar ingin membawanya pulang!
Wanita yang menarik perhatian banyak orang itu adalah Wina. Dia meninggalkan kota Palau tiga tahun lalu dengan membawa bayinya yang baru lahir.
Tiga tahun lalu, Wendy mengalami pendarahan hebat setelah perutnya ditendang berkali-kali oleh Hadi. Ditambah dengan tendangan Sari, akibatnya Wina kehilangan banyak darah dan koma selama beberapa waktu.
Setelah itu Sari melemparnya ke laut, seperti yang dia lakukan pada Lily, ibunya.
Mungkin karena takdir memutuskan saat itu belum waktunya bagi Wina untuk meninggalkan dunia ini. Tidak lama setelah Sari dan anak buahnya pergi, air laut mulai pasang. Wina terhanyut hingga ke tepi pantai. Untungnya ada seorang pria yang baik hati menemukannya lalu membawa dirinya ke rumah sakit.
Dia akhirnya sadar setelah mengalami koma selama dua minggu.
Dan ketika dia bangun, ada bekas luka operasi caesar di perutnya.
Setelah menjalani pemeriksaan sebelum kelahiran, dia mengetahui bahwa dia sedang mengandung bayi kembar fraternal.
Ketika Wina dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan, kondisinya sangat parah. Dokter segera melaksanakan operasi caesar untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Tetapi meskipun dokter dan perawat telah berusaha sekuat tenaga, hanya salah satu bayinya yang berhasil diselamatkan. Menurut diagnosis dokter, bayi perempuan itu meninggal karena pukulan dari luar. Meski pun sang bayi laki-laki dapat lahir dengan selamat, kondisinya juga kurang baik. Bayi malang itu menderita patah tulang dan memar di sekujur tubuhnya.
Sungguh merupakan sebuah keajaiban, dia bisa selamat setelah berada di inkubator selama dua minggu.
Saat mengetahui keberadaan bayinya, Wina bertekad untuk tidak membesarkan bayi itu, karena sang bayi selalu mengingatkan dirinya akan betapa bodoh dirinya sendiri di masa lalu.
Namun ketika melihat sang bayi untuk pertama kalinya, hati Wina melunak.
Tubuh anaknya berwarna merah dan keriput, seperti orang tua. Sama sekali tidak imut, berbeda jauh dengan bayi yang dia lihat di televisi!
Tetapi ketika jari Wina menyentuh bibir mungil bayinya, putranya itu langsung mengisap jari sang ibu.
Pada saat itu sepertinya ada garis yang langsung menghubungkan kedua hati mereka. Akhirnya Wina memutuskan bahwa dia akan membesarkan bayi ini hingga dewasa, tak peduli kesulitan apa yang akan dia hadapi di masa depan.
Setelah keluar dari rumah sakit, dia memutuskan untuk pulang.
Keluarga Wina rupanya telah mengadakan upacara pemakaman untuk dirinya.
Sari membunuh dirinya karena dia mengetahui banyak rahasia kotor milik wanita kejam itu. Wina tahu jika dia terus tinggal di kota Palau, lambat laun dia akan bertemu dengan musuhnya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, demi menjamin keselamatan dirinya dan anaknya yang baru lahir, Wina segera melarikan diri ke Singapura.
Ketika dia tiba di negeri asing, hidupnya sangat sulit. Dia adalah seorang wanita yang tidak memiliki latar belakang pendidikan atau keahlian khusus. Jadi Wina hanya bisa bekerja di sebuah restoran Tiongkok sebagai pencuci piring sambil merawat bayinya yang belum genap satu bulan. Pada awalnya Wendy merasa hidupnya seperti di neraka dan sangat ingin menyerah. Tapi saat melihat putranya yang masih kecil, dia tetap bertahan.
Wina merasa beruntung putranya mudah dirawat dan tidak rewel. Ketika putranya berusia enam bulan, dia mempekerjakan seorang pengasuh bayi untuk membantu merawatnya. Kemudian Wina melanjutkan impiannya dan menjadi mahasiswa Universitas Seni Kreola.
Dengan semangat belajar yang besar, dia bersumpah untuk menjadi lebih kuat dan sukses!
Dia ingin memiliki kekuasaan untuk membawa pembunuh bayi perempuannya ke pengadilan!
"Mami..." panggil putranya itu, mengembalikan kesadaran Wina dari lamunannya. Dia melihat anaknya yang dipenuhi rasa khawatir. "Ada apa, sayang?" tanya Wina.
"Paman Angga telah menelepon beberapa kali, tetapi Mami tidak mendengarnya!"
"Maafkan Mami, sayang. Mami tadi sedang memikirkan sesuatu."
Begitu mengangkat kepalanya, Wina melihat Angga Kariman sudah berdiri di pintu keluar. Pria itu melambai pada mereka sambil tersenyum lebar. Dia kemudian melangkah maju dan berusaha mengambil koper dari tangan Wina.
"Tidak perlu. Aku bisa membawa koperku sendiri."
"Kenapa kamu bersikap sopan sekali? Ini bukanlah masalah besar!" kata Angga. Kemudian pria itu menoleh ke anak kecil yang berdiri di samping Wina, lalu mengacak-acak kepalanya. "Raya, apakah kamu kangen dengan Paman?" tanya Angga.
"Aduh, Paman Angga!" Raya mengerutkan keningnya dan memprotes, "Paman tidak boleh sembarangan menyentuh kepala seorang pria!"
Seorang pria? Wina melihat putranya berusaha melepaskan tangan Angga yang besar dari kepalanya.
" Beberapa bulan lalu aku sudah merayakan ulang tahun ketigaku di Singapura. Jadi sekarang aku sudah dewasa. Mulai sekarang paman Angga tidak boleh mengacak-acak rambutku," perintah anak kecil itu sambil cemberut.
"Baiklah, Paman mengerti. Kamu adalah seorang laki-laki sekarang, Raya. Jadi, bolehkah Paman memelukmu? Tubuh ibumu kurang kuat. Coba lihat, dia sudah merasa lelah menggendongmu."
"Tentu saja boleh!"
Raya mengulurkan tangan kecilnya kepada Angga. Pria itu memeluk Raya sambil tersenyum lebar. Ayo kita pergi! Paman telah memesan ruang VIP di restoran Samudra untuk kalian. Sekarang Paman akan mengajakmu mencicipi makanan Tiongkok yang asli!"
"Ayo kita pergi, Paman!" Kemudian mereka berjalan menuju ke mobil.
Pada saat yang bersamaan… "Hadi?
Hadi!"
"Kamu bilang apa? Hadi tersadar dari lamunannya.
Apa ada yang salah?"
Nina mengikuti arah tatapan Hadi dengan penuh rasa curiga. Namun dia hanya melihat penumpang yang keluar masuk pintu bandara. Dia memegang lengan Hadi dan bertanya, "Apakah kamu melihat kenalanmu?"
"Tidak. Mungkin aku salah mengenali orang... " jawab Hadi. Tetapi pikirannya masih terpaku pada apa yang dilihatnya.
Tidak mungkin!
Tadi pasti hanya ilusinya!
Bagaimana mungkin dia melihat Wina Karta di kota ini?
Wanita itu sudah meninggal tiga tahun lalu. Dia melihat Wina mengalami pendarahan hebat dengan mata kepalanya sendiri!
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini hati Hadi selalu diliputi oleh rasa bersalah.
Pada saat itu, Wina menikam Nina dengan pisau buah dan malah mengatakan bahwa Nina dengan sengaja melukai dirinya sendiri. Hadi kemudian menendang perut Wina yang sedang hamil tua karena marah.
Seketika itu juga dia melihat darah mengalir di antara kaki Wina.
Tapi dirinya sangat khawatir dengan keadaan Nina sehingga dia langsung membawanya ke rumah sakit tanpa mempedulikan keadaan Wina. Setelah kembali dari rumah sakit, dia mendengar kabar bahwa Wina telah meninggal karena pendarahan yang hebat.
Pendarahan hebat!
Hal itu terjadi karena Hadi menendang perutnya dengan keras ...
"Hadi?"
"Ya?" Hadi menarik napas dalam-dalam dan memeluk pinggang Nina, berusaha keras mengalihkan pikirannya dari kejadian di masa lalu. "Bagaimana syuting kamu di luar negeri? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?"
"Tidak ada masalah. Aku sangat merindukanmu!"
"Dasar gadis bodoh!" Hadi tersenyum lembut melihat Nina yang bertingkah manja. "Aku tahu akhir-akhir ini kamu tidak memiliki nafsu makan. Kemarin aku sudah memesan ruang VIP di Restoran Samudra untuk kita. Ayo kita pergi!"
"Oh, Hadi! Memang kamu yang terbaik untukku!"
Bab3 Apakah Kamu Terobsesi Dengan Kecantikanku?
"Aku sudah menyewa sebuah rumah untukmu dan Raya. Setelah kita selesai makan malam, aku akan segera mengantar kalian ke sana. Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah menyiapkan kebutuhan sehari-hari untuk kalian. Tapi jika ada yang terlupa, ada supermarket di lantai bawah. Aku bisa menemanimu ke sana." Angga memberi tahu. Tangan pria itu memegang kemudi sementara matanya fokus pada kondisi jalan.
Wina memeluk tubuh Raya sambil duduk di kursi belakang. Setelah mendengar perkataan Angga, dia menyipitkan mata dan menghela napas.
"Aduh, Angga! Kenapa kamu begitu manis dan penuh perhatian? Mungkin ada baiknya jika aku menikahimu!" Senyum menggoda terukir di bibir Wina saat dia bercanda dengan pria itu.
"Hmm... Itu adalah ide yang sangat bagus. Aku tidak keberatan memiliki seorang putra yang menggemaskan seperti Raya."
Rayaka menatap wajah ibunya dan berkata, "Mami, tolong pikirkan baik-baik! Ide ini sangat bagus."
"Sayang, dengarkan perkataan Mami. Paman Angga hanyalah teman baik Mami."
Angga tertawa dan menjawab, "Teman macam apa yang kamu maksud?"
Mendengar perkataan pria itu, Wina tidak bisa berkata-kata.
"Kamu pantas mendapatkan seorang wanita yang lebih baik." jawab Wina setelah beberapa saat.
Dia bertemu dengan Angga di Singapura dua setengah tahun yang lalu.
Saat itu, dia baru saja mendaftar di Universitas Seni Kreola. Wina baru saja belajar bahasa Inggris sehingga dia mengalami banyak diskriminasi karena tidak mampu berkomunikasi dengan baik.
Diskriminasi rasial sangat sering terjadi di negara itu!
Dan para siswa perempuan yang belum fasih berbicara menggunakan bahasa Inggris, menjadi sasaran diskriminasi.
Setelah melahirkan Raya, entah kenapa badan Wina berubah menjadi lebih seksi. Oleh karena itu banyak mahasiswa laki-laki di kampus mulai mendekatinya sehingga menimbulkan kecemburuan di antara mahasiswa perempuan. Mereka mulai membuat masalah bagi Wina, baik di dalam atau di luar kampus.
Angga lah yang berkali-kali menyelamatkan Wina.
Bahkan ketika Angga memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah, pria itu tidak memutuskan kontak dengan Wina. Dia tahu bahwa Wina sangat membutuhkan uang untuk merawat si kecil Raya, jadi dia sering membantu Wina untuk mendapat pekerjaan.
Sebagian besar pekerjaan yang Angga tawarkan adalah peran figuran di serial TV.
Pekerjaan ini tidak hanya membantu Wina mengasah kemampuan akting tetapi juga menambah pengalaman dirinya di dunia perfilman.
Tidak perlu diragukan lagi, Angga adalah penyelamat hidupnya. Tanpa bantuan dari pria itu, dirinya mungkin tidak bisa bertahan hingga sekarang.
"Angga, aku akan mengganti biaya sewa..."
"Kamu bisa membayarku ketika kamu sudah mendapatkan gaji!"
"Kenapa kamu memberiku kepercayaan yang begitu besar?"
"Sebagai seorang agen, tentu saja aku percaya pada aktrisku sendiri!"
Enam bulan yang lalu, Angga memutuskan untuk kembali ke negara mereka.
Tiga hari lalu, Angga menelepon Wina untuk memberi tahu bahwa ada serial TV lokal berjudul "Kisah Selir Ivanka" yang sedang dalam proses produksi. Anggaran biaya serial TV itu sebesar 4, 3 triliun rupiah, dan seluruh kru yang terlibat benar-benar kompeten.
Serial TV ini diadaptasi dari sebuah web novel dengan judul yang sama. Novel ini sangat populer di internet dan penulis naskah serial ini adalah penulis novel itu sendiri.
Terlebih lagi, serial TV ini akan disutradarai oleh Andino Hermawan, salah satu sutradara top di negara itu.
Karena serial TV ini menceritakan tentang kehidupan di istana selir, banyak aktris papan atas yang dibutuhkan. Salah satu peran pendukungnya sengatlah sesuai dengan kepribadian Wina. Oleh karena itu Angga tidak membuang waktu dan meminta sahabatnya segera kembali ke kampung halaman untuk mengikuti audisi peran tersebut.
Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk Wina!
Ada beberapa alasan lain yang membuat Wina memutuskan untuk kembali. Pekerjaan ini adalah kesempatan sempurna bagi dirinya untuk mengembangkan karir di industri hiburan domestik. Angga mendukung keputusan Wina dengan menjadi agen wanita itu.
Tindakan Angga ini membuat Wina sangat berterima kasih atas semua bantuan yang pernah diberikan oleh pria itu.
Sambil memeluk tubuh Raya, Wina tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah kursi sopir. "Eh... apakah kamu sudah terobsesi dengan kecantikanku? Apakah itu sebabnya kamu selalu membantu saat aku mengalami kesulitan? Ayo katakan yang sebenarnya. Aku tidak akan menertawakan dirimu. Lagipula, aku sadar bahwa penampilanku memang secantik bunga. Jadi tidak heran jika kamu jatuh cinta padaku," goda Wina.
Betapa narsisnya dia!
Angga dan Rayaka bertukar pandang penuh arti, lalu keduanya membuat suara orang muntah pada saat yang bersamaan.
"Ha ha ha!" Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, membuat Wina kebingungan.
Restoran Samudra yang akan mereka datangi adalah sebuah restoran Tiongkok kelas atas yang terkenal di kota Palau.
Arsitektur eksterior maupun interior restoran itu menonjolkan nuansa antik. Ketika pelanggan masuk ke dalam restoran mereka seperti dibawa ke sebuah kastil kuno. Di dalam bangunan itu terdapat paviliun, teras, jembatan, dan sungai buatan. Seorang pelayan mengenakan pakaian tradisional Tiongkok memimpin para pengunjung melalui teras berwarna merah menuju ke ruang makan yang terletak di gedung paling dalam.
Bangunan yang terdiri dari dua lantai itu memiliki tempat duduk terbuka yang elegan di lantai pertama. Sedangkan ruang pribadi terletak di lantai dua. Dekorasi restoran menganut gaya tradisional Tiongkok yang elegan dan menawan.
Mereka tiba lebih awal dari waktu makan malam, tapi area kursi terbuka di lantai satu sudah dipenuhi tamu.
"Ada begitu banyak orang kaya di tempat ini!" Wina berseru.
Sebelumnya, dia telah mendengar berita mengenai restoran Samudra. Restoran ini sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas.
Wina hanya bisa membayangkan betapa lezatnya makanan yang dihidangkan oleh restoran itu.
Karena banyak orang yang ingin mengunjungi restoran itu, ruang pribadi yang terletak di lantai dua harus dipesan paling lambat tiga bulan sebelumnya. Namun masih banyak orang yang gagal untuk membuat reservasi.
"Angga, cepat beri tahu aku, siapa kamu sebenarnya?"
Sepertinya tidak ada yang mustahil bagi dirinya.
"Tidak perlu khawatir. Aku tidak terlibat dengan bisnis ilegal. Restoran ini dimiliki oleh salah satu temanku. Aku tidak perlu membuat reservasi seperti yang harus dilakukan oleh pengunjung lain, " kata Angga sambil tersenyum. Raya berada dalam gendongannnya.
Sekarang Wina mengerti mengapa Angga bisa dengan mudahnya mendapatkan ruang makan pribadi untuk mereka!
Pelayan membawa mereka ke ruang makan pribadi di lantai dua.
Rayaka meninggalkan negara ini saat dirinya belum genap satu bulan. Ini adalah pertama kalinya anak ini pulang ke kampung halamannya. Ketika bocah kecil itu melihat tema budaya tradisional yang sangat terasa di restoran, dia bersandar di bahu Angga dan mengamati sekeliling mereka dengan penuh konsentrasi.
Tiga tahun berlalu sejak terakhir kali Wina datang ke restoran kelas atas untuk makan malam.
Wanita itu sedikit gugup karena sudah lama sekali tidak mengunjungi restoran kelas atas.
"Angga, aku ingin mencuci tanganku terlebih dahulu."
"Baiklah. Kamu bisa belok ke kanan lalu berjalan hingga mencapai ujung koridor. Kamar kecilnya ada di sana."
"Mengerti. Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali."
Setelah selesai mencuci tangan, Wina berjalan kembali mengikuti koridor. Tapi sebelum dia mencapai pintu ruang makan pribadi mereka, ada sosok yang berlari kencang.
"Mami!" Tiba-tiba terdengar suara anak kecil.
Seketika, Wina merasakan ada lengan kecil yang melingkari bagian bawah kaki kanannya. Ketika Wina menunduk, dia tercengang melihat siapa yang sedang memegang kakinya..
Gadis kecil yang memegangi kaki Wina berusia sekitar tiga atau empat tahun. Dia terlihat sangat menggemaskan dengan gayanya yang unik. Rambut keritingnya terlihat seperti mie instan. Gadis kecil itu mengenakan atasan yang terbuat dari kulit asli dan rok tutu berhiaskan manik-manik berwarna cerah. Di bawah cahaya lampu, manik-manik itu bersinar terang. Sangat menyilaukan mata!
"Gadis kecil, kamu pasti salah mengenali orang."
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan penuh rasa percaya diri, "Aku bukanlah anak berusia tiga tahun. Bagaimana mungkin aku salah mengenali orang? Kamu adalah ibuku!"
"Kalau begitu, berapa umurmu tahun ini?"
Gadis kecil itu mengulurkan empat jari mungilnya dan menekankan, "Empat! Aku berumur EMPAT tahun! Aku baru saja merayakan ulang tahun ketigaku dua hari yang lalu. Sekarang umurku empat tahun!"
"Benar saja, dia memang bukan anak berusia tiga tahun." Mulut Wina berkedut saat memikirkan jawaban si gadis kecil.
Biasanya dia tidak menyukai anak-anak selain Rayaka, tetapi entah mengapa, Wina tidak merasa jijik ketika dipegang oleh gadis kecil ini.
Seandainya saudara kembar Rayaka selamat, dia pasti akan sama menggemaskannya seperti anak ini.
Tatapan mata Wina melembut saat memikirkan putrinya yang telah meninggal dunia.
"Gadis kecil..."
"Mami, ayo masuk!"
"Uh..."
Sebelum Wina sempat menyelesaikan kata-katanya, gadis kecil itu meraih tangan Wina lalu menyeretnya ke salah satu ruang makan pribadi. "Mami, silahkan masuk!"
Setelah melewati pintu lengkung dan memasuki ruang makan pribadi, Wina menyadari ada dua orang yang sedang duduk di sana.
Sepasang pria dan wanita mengenakan pakaian formal yang duduk berseberangan tampak menikmati makan malam.
Dari sudut pandang Wina, dirinya hanya bisa melihat punggung pria itu, tapi dia dapat melihat wajah wanita yang duduk menghadap ke arah pintu masuk.
"Tante, kenalkan ini ibuku. Bukankah ibuku memiliki wajah yang mempesona? Dia jauh lebih cantik dari Tante! Aku beri tahu sebuah rahasia, ya. Tante sama sekali tidak terlihat cantik di mata ayahku. Aku tidak ingin memiliki adik laki-laki atau perempuan yang akan tumbuh dengan wajah sejelek Tante!" Setelah selesai mengutarakan isi pikirannya, gadis kecil itu menjulurkan lidah pada wanita yang duduk di seberang ayahnya.
"Kamu, kamu ..." Wajah wanita itu berubah menjadi merah karena sangat marah.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan, "Ayah sangat mencintai ibuku! Wanita dengan penampilan seperti Tante tidak akan bisa merayunya, jadi sebaiknya Tante menyerah sekarang!"
Bab4 Apakah Kamu Tidak Suka Dengan Caraku Memanjakan Putriku?
Wina segera mengerti situasi yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.
Pria dan wanita yang sedang duduk di depan Wina mungkin sedang melakukan kencan buta, dan gadis kecil di sebelah Wina adalah putri pria itu. Kelihatannya gadis kecil ini tidak suka dengan kencan ayahnya, jadi dia menarik Wina untuk merusak makan malam mereka yang sejauh ini berjalan dengan lancar.
Setelah Wina akhirnya memahami apa yang sedang terjadi, dia langsung merasa sakit kepala.
Dia hanya ingin makan malam dengan tenang bersama Raya dan Angga. Dirinya jelas tidak mengharapkan berada dalam situasi canggung seperti ini.
Wina berjongkok untuk melihat mata anak itu dan berkata, "Gadis kecil..."
"Aku tahu Mami merasa sedang diperlakukan dengan tidak adil," sela gadis mungil itu, tampaknya dia terlalu menghayati cerita yang dia buat. Dalam beberapa detik, mata anak itu memerah, dan dia melemparkan dirinya ke dalam pelukan Wina. "Kakek dan nenek tidak menyukai mami, dan beliau tidak mengizinkan mami untuk menikahi ayah. Jadi mami dan ayah hanya bisa bertemu diam-diam. Mami tidak perlu khawatir.. Mereka mungkin tidak menyukai mami, tapi aku sangat mencintai mami, begitu juga ayah! Mami adalah satu-satunya wanita yang dicintai oleh ayah. Aku berjanji di masa depan kita bertiga tidak akan pernah berpisah. Kita adalah keluarga."
Gadis malang itu menangis di dada Wina saat dia berbicara, air mata membasahi baju Wina, membuat baju itu menjadi lembab.
Entah kenapa hati Wina sakit ketika dia mendengarkan ungkapan perasaan anak itu.
Sungguh gadis kecil yang malang!
Ayahnya ingin mencarikan ibu tiri, tetapi dia sangat takut sang ayah akan memperlakukan dirinya dengan berbeda begitu dia menemukan istri baru. Karena itu dia acuh tak acuh terhadap kencan ayahnya.
Menyadari hal ini, Wina memeluk gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, lalu menepuk punggungnya untuk menghiburnya.
"Sayang, jangan menangis lagi."
"Hua... Huaaa..."
Di meja makan, wajah pucat wanita itu berubah menjadi raut wajah tidak senang.
Perubahan drastis itu sangat masuk akal.
Tidak ada yang akan merasa senang sewaktu disebut jelek oleh seorang gadis kecil.
"Adrian... Aku tahu putrimu tidak menyukaiku, tapi sikapnya tadi sangatlah tidak sopan," kata wanita itu sambil memegang tangan pasangan kencannya.
Mendengar perkataan sang wanita, gadis kecil itu menangis lebih keras.
Tapi Wina tidak keberatan. Yang sedikit mengganggunya adalah suhu ruangan yang tiba-tiba turun drastis. Hari ini udara di luar terasa begitu panas tetapi sekarang dia malah merinding.
"Tadi kamu bilang apa?"
Pria itu akhirnya mulai berbicara. Suaranya yang rendah dan bariton terdengar menyenangkan. Namun, suara itu juga penuh dengan aura yang mengintimidasi.
Dengan ketakutan yang terlihat jelas di wajahnya, wanita itu menelan ludah sebelum berkata, "Aku ... Maksudku, sikap Priska tadi sangat tidak sopan. Adrian, putrimu sudah berusia empat tahun. Sudah waktunya kamu mulai mengajari Priska tata krama."
Pria itu segera menarik tangannya dari genggaman wanita itu. Kemudian, dengan suara tegas, dia berkata, "Ini adalah caraku untuk memanjakan putriku. Apakah kamu punya masalah dengan caraku?"
Wanita itu dibuat terdiam oleh kata-kata Adrian.
"Adrian..."
"Kamu bisa pergi sekarang!"
Wanita itu tercengang dengan sikap Adrian. Dia telah mengeluarkan banyak waktu dan usaha untuk mendapatkan kesempatan kencan buta dengan Adrian Kartadi. Pria itu terlalu sulit didapatkan oleh wanita. Tapi sekarang Adrian malah menendangnya keluar hanya karena dia mengatakan putrinya bersikap tidak sopan!
"Adrian..."
"Keluar dari ruangan ini!"
Melihat wajah Adrian yang penuh amarah, wanita itu langsung gemetar ketakutan. Dia tidak berani mengatakan apa-apa lagi dan dengan cepat mengemasi barang-barangnya sebelum berjalan keluar dari ruang makan VIP.
Saat wanita itu berjalan melewati Wina, dia memelototi Wina yang tidak bersalah dengan ganas.
Meskipun Wina melihat sikap kekanakan wanita itu, namun dia tidak ambil pusing dan malah menggosok hidungnya dengan ekspresi polos.
Bam!
Suara menggelegar menggema di seluruh ruangan, menandakan bahwa pintu telah ditutup dengan keras.
Wina hendak menghibur gadis kecil itu ketika pria di depannya tiba-tiba berbalik, sehingga Wina dapat melihat wajah pria itu dengan jelas.
Seketika, jantung Wina berdetak dengan kencang!
Pria itu sangat tampan!
Dia mengenakan setelan hitam, menonjolkan bahunya yang lebar dan pinggang yang sempit.
Menurut perkiraan Wina tinggi pria itu sekitar 185 cm. Perbedaan tinggi yang cukup signifikan membuat Wina tiba-tiba merasa dirinya sangat kecil. Rahangnya yang tajam, alisnya yang hitam tebal, dan matanya yang gelap semua menonjolkan wajahnya yang terlihat seperti pahatan karya seniman terkenal.
Saat alis pria itu berkerut, Wina menyadari pria tampan itu sangat berwibawa dan mendominasi.
Tapi setelah mengamati wajah pria itu dari jarak dekat, Wina merasa dia tampak tidak asing!
Jika Wina pernah bertemu dengan pria tampan seperti itu sebelumnya, dia pasti akan mengingatnya.
Saat Wina sedang tenggelam dalam pemikirannya, pria itu tiba-tiba berbicara. Suaranya rendah dan penuh peringatan.
"Priska Kartadi."
"Iya, Ayah. Aku datang!" Gadis kecil itu menjawab dengan nada ceria lalu melompat dari pelukan Wina. Saat Wina menunduk, dia melihat masih ada air mata di wajah gadis kecil itu. Tapi gadis kecil itu malah tersenyum lebar.
'Apakah tadi anak ini hanya berakting?' pikir Wina dalam hati. Dia cukup tercengang melihat betapa cepat gadis itu mengubah ekspresinya.
"Kemarilah," perintah pria itu tanpa emosi.
Gadis kecil itu berlari dan memegang kaki pria itu dengan wajah ingin mengambil hati sang ayah. "Ayah, jangan marah.. Aku tidak bermaksud untuk merusak kencan Ayah. Tapi dulu Ayah pernah berkata bahwa Ayah akan meminta pendapatku sebelum mencari seorang ibu untukku. Tante tadi jelek sekali! Dia sama sekali tidak pantas untuk menjadi istri Ayah! Coba lihat sikap wanita itu! Hari ini adalah kencan pertamanya dengan Ayah, namun dia sudah berani memarahiku karena dia pikir aku tidak sopan. Coba Ayah pikir, jika dia menjadi ibu tiriku, berdasarkan sikapnya tadi apakah dia akan memperlakukanku dengan baik?
"Lalu apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Aku suka tante ini!" Gadis kecil itu tiba-tiba menunjuk ke arah Wina, membuat Adrian mengalihkan perhatian pada Wina.
Saat Adrian melihat wajah Wina untuk pertama kalinya, ada rasa kaget di mata pria itu. Tapi itu hanya bertahan selama beberapa detik, dahi pria itu berkerut.
Mengapa pria ini memandangnya dengan tatapan tidak ramah? Dasar pria aneh.
"Temanku sedang menunggu di ruangan lain. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Selamat tinggal," kata Wina, segera bersiap untuk meninggalkan ruangan karena dia merasa bahwa pria itu tidak menyukai kehadirannya.
Pria itu tetap diam, tetapi putrinya terlihat enggan membiarkan Wina pergi.
"Selamat tinggal, tante cantik! Semoga kita bisa bertemu lagi." kata gadis itu dengan penuh semangat, sambil melambaikan tangan mungilnya.
"Selamat tinggal, gadis kecil!"
Begitu Wina meninggalkan ruangan, tatapan mata Adrian berubah menjadi lebih dingin. Gadis kecil itu tampaknya sudah lama terbiasa dengan wajah dingin ayahnya, jadi dia tidak takut sama sekali.
"Siapa yang membawamu ke tempat ini? !" tanya Adrian. Dia bertanya-tanya dalam hati bagaimana putrinya bisa sampai di restoran itu.
"Paman Lukas!"
Gadis kecil itu segera menjawab tanpa ragu-ragu.
Di luar ruang makan VIP, Lukas Kartadi mau tak mau mendorong pintu untuk memasuki ruangan begitu rahasianya terbongkar. "Hey, Priska Kartadi! Apakah kamu tidak memiliki hati nurani? Siapa yang meminta Paman untuk membawamu ke tempat ini? Bukankah kamu selalu mengatakan bahwa kamu adalah keponakan yang paling dekat dengan Paman Lukas dan juga paling mencintai Paman Lukas? Kenapa kamu langsung mengadu pada ayahmu? Dasar gadis jahat! Kelak, aku tidak akan pernah mengajakmu keluar untuk bersenang-senang lagi!"
"Paman Lukas, jangan begitu ..."
"Huh!"
Lukas mengalihkan wajah dengan arogan dan mengabaikan keponakannya.
Tidak kehabisan akal, Priska naik ke paha Lukas. Takut keponakannya akan jatuh, Lukas buru-buru meraih pantat Priska. Gadis kecil itu melingkarkan lengannya di leher Lukas dan memberinya ciuman.
"Hmm! Jangan berpikir bahwa kamu bisa mengobati rasa sakit di hatiku hanya dengan sebuah ciuman!"
Gadis kecil itu memutar matanya, menoleh, lalu mencium Lukas berkali-kali di pipinya.
Tidak bisa menahan diri melihat kelucuannya keponakannya, Lukas tersenyum lebar.
"Ini baru gadisku yang baik!"
Setelah drama yang terjadi, mereka semua melanjutkan makan malam mereka di ruang makan VIP. Priska, adalah contoh sempurna gadis pemalas, dia langsung tertidur setelah selesai makan. Adrian dengan cepat melepas jaketnya dan menyelimuti putrinya agar tidak kedinginan. Dia menatap putrinya dengan tatapan lembut, sangat berbeda dari ekspresinya sehari-hari.
Namun, ketika dia mengalihkan pandangannya ke arah Lukas, matanya berubah menjadi dingin seperti biasanya.
Hati Lukas langsung mencelos saat menerima tatapan kakaknya.
'Sialan!
Bagaimana mungkin kakaknya memperlakukan mereka secara berbeda? Anak perempuan adalah harta berharga sedangkan adik laki-laki adalah rumput liar?
Aku adalah adik kandungnya!' Lukas mengomel dalam hati.
"Lukas!"
"Ya, Kak?"
"Segera kumpulkan informasi menyeluruh mengenai wanita itu! Kamu punya waktu satu jam untuk menyelesaikan tugas ini!"
"Wanita yang baru saja dibawa Priska ke ruangan ini?" Lukas bertanya, dia sedikit bingung mengapa kakaknya ingin tahu identitas wanita itu. Tetapi setelah berpikir sejenak, dia segera menambahkan, "Apakah Kakak curiga bahwa wanita itu sengaja mendekati Priska dan menggunakannya untuk mendekatimu?"
Bab5 Aku Hanya Mencintaimu
0 Komentar