Di ujung timur Nusantara, di tanah yang kaya hutan dan gunung emas, hiduplah sebuah bangsa kecil yang hatinya besar bangsa yang tumbuh dari leluhur yang menari bersama angin dan berbicara dengan gunung. Di tanah itulah sejarah Papua Barat pernah mencatat sebuah hari yang disebut banyak orang sebagai hari harapan, hari ketika sebagian orang percaya bahwa cahaya kemerdekaan pernah menyala.
Namun sejarah tidak selalu berjalan lurus. Angin koloni sering lebih kuat dari suara rakyat dan sejarah nyata. Dalam perjalanan panjang itu, banyak cerita yang tertahan, banyak suara yang tidak pernah sampai ke meja-meja kekuasaan nasional maupun internasional. Di kampung dan kota, dari pesisir sampai dataran tinggi, orang-orang berbisik tentang masa lalu yang pernah disebut kemerdekaan masa yang bagi mereka, selalu dengar dari orang tua Papua masih hidup dalam ingatan mereka.
Seiring perubahan zaman, suasana menjadi semakin rumit. Pemerintah pusat berusaha menjaga keutuhan negara, sementara orang Papua merasa sejarah mereka tidak pernah didengar sepenuhnya. Ketika ada orang papua bersuara tentang masa lalu atau masa depan, sering kali mereka dicurigai. Ada cerita tentang orang yang ditangkap, dianiaya, bahkan hilang. Kisah-kisah seperti ini beredar dari mulut ke mulut dan membuat luka semakin dalam.
Di balik semua itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihapus oleh kekerasan: sejarah Pada 1 Desember 1961, Dewan Nugini Belanda (Nieuw Guinea Raad) tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup di hati masyarakat, dalam lagu-lagu, dalam tarian, dalam nama tempat, dan dalam percakapan orang tua kepada anak-anak mereka.
Bagi Orang Asli Papua baik mereka polisi, guru, bupati, camat, atau petani ada satu perasaan yang sulit dijelaskan. Mereka lahir di tanah yang begitu kaya: gunung penuh mineral, lautan penuh ikan, hutan penuh kehidupan. Mereka melihat kekayaan itu mengalir keluar, sementara banyak rakyat tetap hidup sederhana. Mereka dibunuh, negara koloni menyerang orang yang sampaikan aspirasi sejarah dengan cara,siksa,tembak. Dari sinilah muncul rasa sejarah yang belum selesai, keinginan akan martabat, harga diri, dan pengakuan.
Semua orang papua, apapun pekerjaannya kata DIALOG adalah solusi yang damai, karena banyak yang merasakan sebuah rasa dalam hati mereka—sebuah kerinduan akan keadilan, keamanan, dan ruang untuk menentukan masa depan sendiri. Sebagian menyebutnya kedaulatan, sebagian menyebutnya kesejahteraan, sebagian lagi menyebutnya harapan. Namun apa pun namanya, itu tumbuh seperti bara kecil dalam dada: diam, tapi tidak padam.
Konflik pun menjadi seperti bara dan minyak. Setiap kali terjadi kekerasan penangkapan, penyiksaan, penembakan bara itu kembali menyala. Setiap kali ada warga tak bersalah menderita, kepercayaan semakin rapuh. Dan ketika kepercayaan hilang, jarak antara pemerintah dan rakyat semakin jauh.
Para pemimpin adat dan gereja sering mengingatkan:
Jangan matikan suara dengan kekerasan. Karena suara akan diam, tetapi tidak akan hilang.”
Hari ini, suasana Papua Barat berada pada persimpangan. Ada yang memperjuangkan dialog damai, ada yang ingin perubahan politik, ada yang memilih tetap dalam NKRI namun menuntut keadilan sosial, dan ada yang memegang teguh cita-cita kemerdekaan simbolis yang tertanam dalam sejarah mereka.
Apa pun itu, satu hal tidak dapat disangkal:
Hati orang Papua adalah tanah yang tidak bisa dikuasai atas nama politik.
Ia hanya bisa disentuh dengan keadilan, kebenaran, dan rasa hormat.
Selama sejarah itu masih hidup, selama luka belum dipulihkan, selama suara belum didengar, maka cerita Papua Barat akan terus berjalan menuju suatu masa ketika setiap orang dapat hidup tanpa rasa takut, dan ketika sejarah tidak dipertentangkan, tetapi dipahami bersama.
free west papua
Degey linus

0 Komentar