Ticker

11/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Selpius Bobi; Pihak Ketiga Telah Mencabik Hubungan Keluarga Antara Suku Mee dan Kamoro


Suku Mee dan Suku Kamoro di Kapiraya adalah dua suku tetangga yang telah lama hidup berdampingan. Kedua suku dari dahulu kala telah membangun hubungan kekeluargaan. 

Kedua suku selalu saling mengunjungi dan saling berbagi. Kedua suku berburu bersama, memancing bersama, berkebun bersama, masak bersama, makan bersama. 

Dari suku Mee membawa petatas (ubi), keladi, dan sayur pergi ke Pantai Selatan suku Kamoro. Dari suku Kamoro menyiapkan ikan laut, dan daging buaya. Lalu mereka masak dan makan bersama sama. Selama berhari hari suku Mee menginap di rumah suku Kamoro dan demikian pula sebaliknya. 

Pada waktu suku Mee pulang kembali ke Kampung, mereka membawa daging ikan dan buaya yang sudah diasar (sudah dikeringkan); Serta membawa pulang kulit bia sebagai alat pembayaran yang dalam tradisi budaya suku Mee. 

Dari dahulu kala kedua suku (Mee dan Kamoro) hidup rukun dan damai; Tak ada perang antar suku, tak ada konflik. 

Ketika suku lain datang bermukim di Pantai Selatan Kapiraya (Wakia), suku lain inilah yang membawa pengaruh negatif bagi suku Kamoro. 

Suku lain itu adalah suku Kei yang datang dan menetap di Kampung Wakia dan sekitarnya. Kepala Kampung Wakia berasal dari suku Kei. Awal tahun 2024, kepala Kampung ini mengijinkan Perusahaan Zoomlion masuk menambang emas di Wakiya di Kapiraya.

Penemuan emas di kali Wakia inilah yang memicuh terjadinya konflik perebutan lokasi. Suku Kamoro dan Kei masuk menambang emas di wilayah hak ulayat suku Mee, kemudian suku lain juga bergabung dengan suku Kamoro. Perebutan lokasi tambang inilah memicu konflik pada tahun 2024 hingga kini. 

Suku Kei dan ada pula suku lain yang bergabung dengan suku Kamoro untuk menyerang warga Kampung Mogodagi yang dihuni suku Mee. 

Konflik ini sengaja diseting oleh kaki tangan Indonesia untuk mencapai target berikut ini, antara lain: 

1. Untuk membangun Markas TNI dan Polri; 

2. Merelokasi atau mengusir warga setempat; 

3. Demi kepentingan merampok kayu dan eksploitasi tambang emas dalam skala kecil dan menengah di sepanjang kali Wakia; 

4. Untuk membuka perusahaan besar eksploitasi Tambang Emas di dua lokasi yang sedang dibidik oleh Jakarta, yaitu di Blok Fajar Timur Papua A, dan Blok Fajar Timur Papua B yang berada di bagian gunung Kapiraya. 

Solusinya adalah:

1. Kedua belah pihak (suku Mee dan Kamoro) harus duduk di para para Adat untuk berdamai. 

2. Para pelaku harus ditangkap dan diproses hukum.

3. Kepala suku besar suku Mee dan suku Kamoro yang ada di Kapiraya segera bersepakat membuat Tapal Batas Adat. 

4. Suku suku lain yang bergabung dengan suku Kamoro agar tahu diri bahwa dirinya bukan suku asli, tetapi suku pendatang, hanya numpang di Kampung Wakia dan sekitarnya hanya untuk menyambung hidup. 

5. Negara Indonesia melalui kaki tangannya STOP bermain di belakang suku Kei, Kamoro dan suku lain yang bergabung bersama untuk serang suku Mee hanya untuk merebut hak ulayat suku Mee demi kepentingan tambang emas dan kayu. 

6. Para pemimpin di Papua, baik pihak pemerintah, Adat dan Gereja untuk segera memediasi kedua belah pihak (suku Mee dan Kamoro) untuk berdamai dan menyepakati Tapal Batas Adat yang permanen. 

7. Pemerintah Propinsi Papua Tengah juga segera mendorong Pemda Deiyai, Dogiyai dan Mimika untuk menyepakati Tapal Batas adminitrasi pemerintah Kabupaten Dogoyai, Deiyai dan Mimika. 

8. Kedua belah pihak menahan diri dan menyelesaikan masalah hak ulayat ini di para para Adat di antara kedua suku tetangga (Mee dan Kamoro). 

9. Segala kerugian materi dan korban jiwa manusia harus dibicarakan di para para adat yang dimediasi oleh para pemimpin Adat, Gereja dan Pemerintah untuk mengantisipasi korban berjatuhan. 

10. Konflik antara Kampung Wakia dan Kampung Mogodagi ini hanya menguntungkan pihak musuh Indonesia, maka segera hentikan konflik. Hindari perang suku karena itu menguntungkan pihak musuh Indonesia yang sedang kuasai Tanah Air Papua dan merampas SDA sambil membantai orang asli Papua. 

11. Kita orang Papua ini sedikit orang, mari kita bersatu untuk selamatkan etnis Papua yang tersisa dan selamatkan Tanah Air Papua. 

12. Akhir kata: berdamai dan bersatu kita kuat; sebaliknya bermusuhan dan bercerai berai kita hancur. 

"SATU RAKYAT, SATU JIWA, SATU KELUARGA, SATU BANGSA, SATU TANAH AIR PAPUA. Shalom.

(Oleh: Selpius Bobii, Aktivis HAM, Eks Tapol Papua, Koordinator JDRP2 // Jayapura: Rabu, 26 November 2025)


Posting Komentar

0 Komentar