Ticker

11/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Victor Yeimo Jubir KNPB: Beda-nya Otsus Di Papua dan Diluar Papua


Bedanya Otsus disini dengan diluar sana: Kalau di Greenland mereka mengatur hukum sendiri, memiliki polisi sendiri, menguasai sumber daya sendiri, dan bisa melakukan referendum kapan pun mereka mau. Quebec menjalankan bahasa sendiri, kurikulum sendiri, pajak sendiri, dan pernah dua kali memilih lewat referendum (tanpa tentara mengepung rakyatnya). Bougainville menjalankan pemerintahan penuh, mengatur tambang, bahkan 97,7% rakyatnya memilih merdeka dalam referendum yang sah. Basque mengelola fiskal, polisi, dan budaya tanpa intervensi pusat. Catalonia punya parlemen kuat, hukum lokal, bahasa resmi, dan aparat sendiri.

Aland punya status demiliterisasi permanen: tidak ada pasukan pusat di tanah mereka. Nunavut menjaga wilayah Inuit dengan FPIC sebagai kewajiban negara, bukan pilihan. Faroe Islands memegang hak fiskal dan hukum. Sicily mengatur pajak daerahnya. Scotlandia memiliki parlemen dan hak referendum diakui dunia. Zanzibar memiliki presiden, konstitusi sendiri, dan sistem politik terpisah. Hong Kong dulu memegang polisi, imigrasi, pengadilan, dan mata uang sendiri. Samoa Amerika mempertahankan adat, tanah, dan struktur politik lokal tanpa sentuhan paksa negara pusat.

TAPI kalau Otsus di Papua paling brutal dan berbeda jauh. Tanah ulayat dihancurkan izin dari Jakarta. Sumber daya alam dikuras UU nasional. Tidak ada fiskal mandiri. Pendidikan diarahkan untuk integrasi, bukan identitas. Bahasa tak dijaga, adat tak dilibatkan, hukum adat tak diberi ruang. Keamanan dikendalikan aparat pusat dengan senjata lengkap. Pemekaran wilayah dipaksakan tanpa persetujuan adat, tanpa FPIC, tanpa konsultasi apa pun, bahkan menabrak Otsus itu sendiri.

Perdasus bisa dibatalkan kapan saja oleh Kemendagri. Tanah ulayat diputuskan oleh izin pusat. Keamanan dijaga oleh pasukan pusat, bukan aparat lokal. Dan ketika pemekaran dipaksakan tanpa persetujuan. Tidak ada satu pun unsur otonomi dunia yang hadir di Papua. 

MRP justru dipasangi agen-agen kolonial. Mereka dipilih untuk tunduk, bukan melindungi. Mereka dipakai untuk mengkampanyekan Otsus Jilid II, menormalisasi pemekaran, dan memalsukan suara rakyat. Di tempat lain, lembaga adat adalah jantung identitas. Di Papua, lembaga adat dijadikan pengeras suara penjajah.

Setiap wilayah otonomi di dunia diberi hak menentukan nasibnya. Setiap wilayah otonomi di dunia bisa menolak pusat. Setiap bangsa adat diberi perlindungan tanah. Setiap rakyat diberi ruang referendum. Hanya Papua yang diberi otonomi untuk tidak memiliki apa-apa.

Itulah perbedaan paling brutal. Di dunia, Otsus adalah alat memerdekakan. Di Papua, Otsus adalah alat mengekang. Di dunia, Otsus memperkuat bangsa asli. Di Papua, Otsus dipakai untuk mematahkan bangsa asli.

So, klu di dunia, otonomi adalah kehormatan. TAPI OTSUS PAPUA tu mengambil kekuasaan, melarang referendum, merampas tanah, menyingkirkan adat, menghancurkan representasi, menambah kontrol pusat, menutup pintu kedaulatan, dsb.


Victor Yeimo 

Posting Komentar

0 Komentar