Realita pertama: 5 suku sudah tidak ada.
Dari 255 suku asli di Tanah Papua, 5 suku dinyatakan punah: Suku Yaper, Suku Bagi, Suku Tu, Suku Totar, dan Suku Tagusom. Punah berarti bahasa tidak lagi ditutur, upacara adat tidak lagi digelar, orang terakhir dari marga itu sudah mati. Mereka bukan cerita. Mereka pernah ada, lalu habis.
Realita kedua: ribuan perempuan Papua hidup menjanda.
Sejak konflik bersenjata mengeras 2018, tercatat >100.000 orang mengungsi internal, mayoritas perempuan dan anak. Laporan Komnas Perempuan menyebut perempuan di Nduga & Intan Jaya tinggal di kamp pengungsian karena suami tewas, hilang, atau ditangkap. Di luar konflik, HIV/AIDS jadi penyebab lain: di Nabire “hampir tiap bulan 6 ibu kena HIV” dan banyak bayi “lahir tanpa ayah-ibu karena meninggal akibat HIV”.
Tulisan ini menyandingkan dua kata: “musnah” dan “menjanda”. Yang satu sudah selesai. Yang satu masih berlangsung. Pertanyaannya: mengapa yang satu habis, yang satu bertahan dalam luka?
II. Mengapa 5 Suku Bisa Musnah?
Suku tidak musnah karena 1 perang. Suku musnah karena 3 pelan-pelan selama 30 tahun:
1. Rumah Adat Hancur = Budaya Putus = Orang Habis
Suku kecil hidup dari hutan, sagu, kali. Ketika hutan dibuka untuk sawit, tambang, HTI, “dapur” mereka hilang. Suku Korowai terancam karena deforestasi menghancurkan rumah pohon. Suku Amungme “tersingkir dari tanah nenek moyang” setelah tambang Freeport berdiri. Kalau hutan hilang, 1 generasi kelaparan. 2 generasi tidak pakai bahasa ibu karena merantau. 3 generasi: nama suku tinggal di skripsi.
2. Populasi Sedikit + Penyakit Tidak Diobati = Habis
Suku Tu, Totar, Tagusom jumlahnya kecil. Masuk HIV, TBC, malaria tanpa puskesmas, 1 marga bisa habis 10 tahun. Pangdam XVII Cenderawasih 2015: “Di Paniai sudah empat marga penduduk asli punah gara-gara HIV”. Di kota penyakit bisa sembuh. Di pedalaman jadi hukuman mati.
3. Konflik Memutus Rantai Pengetahuan
Saat tembak-menembak masuk kampung, yang lari duluan perempuan & anak. Laki-laki tinggal jaga dusun atau jadi korban. Di pengungsian 5-10 tahun, anak besar tidak belajar bahasa, tidak tahu batas tanah, tidak kenal lagu perang. Pulang kampung, kampung sudah bukan miliknya. Suku punah bukan karena dibom, tapi karena dilupakan.
III. Tapi Mengapa Ribuan Perempuan Papua Hidup Menjanda?
Karena perempuan adalah tiang terakhir rumah yang roboh. Rumahnya roboh, tapi tiangnya belum tumbang. “Menjanda” di Papua hari ini artinya 4 hal:
1. Janda karena Peluru & Operasi Militer
Komnas Perempuan: konflik Papua 1963-2021 bertumpu pada pendekatan keamanan, korban terbanyak masyarakat sipil, perempuan paling rentan. Tahun 2023: 11 tewas di Wamena, 9 OAP. Juni 2025: perempuan & anak Yugumuak mengungsi karena kontak tembak. Suami banyak yang tidak kembali.
2. Janda karena HIV/AIDS
Papua provinsi dengan kasus HIV tertinggi. Ibu rumah tangga tertular suami. Banyak yang tidak tahu status sampai sakit. Suami meninggal duluan, istri rawat anak sambil minum ARV. Data lapangan: bayi lahir tanpa ayah-ibu karena keduanya meninggal HIV.
3. Janda karena Ditelantarkan Ekonomi & KDRT
Laporan Komnas Perempuan: 98 perempuan alami poligami, penganiayaan, penelantaran ekonomi, pemaksaan kawin. Suami hidup, tapi pilih tinggal dengan perempuan lain atau habiskan uang di miras. Istri jadi “janda de facto”: kerja kebun, jual pinang, besarkan anak sendirian.
4. Janda karena Tanah Adat Hilang
Perusahaan sawit & tambang masuk, laki-laki kehilangan kebun = kehilangan peran. Laporan WALHI: investasi bikin perempuan “kehilangan akses terhadap tanah”. Laki-laki stres, minum, KDRT, mati muda. Perempuan tinggal dengan trauma + anak + noken kosong.
IV. Benang Merah: Suku Musnah Ketika Perempuan Tidak Bisa Melahirkan Masa Depan
5 suku punah karena ruang untuk hidup mereka habis. Ribuan perempuan menjanda karena mereka dipaksa hidup tanpa ruang itu.
Komnas Perempuan bilang: “Perempuan Papua alami kekerasan berlapis: domestik, kultural, institusional”. Tapi laporan yang sama juga tulis: “Perempuan bukan hanya korban konflik. Mereka pemimpin perdamaian”. Di kamp pengungsian, mereka tetap anyam noken. Tetap kebun di tanah orang. Tetap kasih anak makan walau suami sudah tidak ada.
Artinya: suku bisa musnah, tapi perempuan belum menyerah. Mereka menjanda, bukan mati. Mereka luka, tapi masih jalan ke kali ambil air.
V. Jawab “Mengapa” Sekaligus “Lalu Apa”
Mengapa 5 suku musnah? Karena negara telat menjaga hutan, telat bawa dokter, telat berhenti tembak.
Mengapa ribuan menjanda? Karena suami mereka korban dari 3 hal yang sama: peluru, penyakit, pemiskinan.
Lalu apa supaya tidak ada suku ke-6 yang musnah?
1. Ubah cara pandang: Papua bukan daerah operasi, tapi daerah rahim. Komnas Perempuan kritik: konflik hanya didekati dengan keamanan. Padahal akar konflik = kemiskinan, trauma, tanah.
2. Jaga 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bidan, gizi, puskesmas harus sampai sebelum pos militer. Otak anak dibentuk di perut mama, bukan di kelas.
3. Kembalikan tanah ke perempuan. Di banyak suku Papua, perempuan yang punya hak pakai kebun. Investasi yang gusur kebun = gusur masa depan suku.
4. Hentikan HIV & KDRT diam-diam. Tes gratis, ARV sampai distrik, hukum adat yang keras ke pemukul istri. Janda karena penyakit & tinju bisa dicegah.
Penutup: Dari Musnah ke Menjaga
5 suku itu sudah tidak bisa kita bangkitkan. Tapi ribuan janda itu masih bisa kita temani supaya anaknya tidak jadi yatim piatu + kehilangan suku sekaligus.
Pertanyaan “Mengapa?” sudah dijawab oleh kuburan & kamp pengungsian.
Pertanyaan sekarang: “Mau tunggu berapa janda lagi sebelum kita jaga rahim yang tersisa?”
Karena selama perempuan Papua masih kuat anyam noken walau menjanda, artinya suku-suku yang sisa masih punya harapan. Tugas kita: jangan bikin harapan itu musnah juga.
Oleh Emil E Wakei
(Dewan Jalanan)

0 Komentar