DARI MAPPI KE MERAUKE: KRONIK KEHANCURAN RUANG HIDUP
Minahasa, Rabu, 13 Mei 2026 || 01:43 WITA00
Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan)
Dari Mappi, Boven Digoel, hingga Merauke, ada kronik yang sedang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan ekskavator. Bab demi bab isinya sama: hutan dibabat, rawa dikeringkan, ruang hidup diganti konsesi. Angka resminya 2,5 juta hektar. Tapi yang hancur bukan angka. Yang hancur adalah rumah, napas, dan masa depan.
Mappi Ketika Sungai Kehilangan Nama
Di Mappi, hutan hujan tropis primer dan rawa adalah ibu. Suku Auyu dan Kombay hidup dari sagu, ikan, dan rusa. Setiap sungai punya nama, setiap dusun punya penjaga. Ilmu biologi lingkungan menyebutnya ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi: satu hektar bisa menopang ratusan spesies pohon, serangga, burung, hingga mikroba yang saling menghidupi.
Kronik kehancuran dimulai saat konsesi masuk. Tanah adat yang tak bersertifikat dianggap “kosong”. Izin keluar, kanal digali, kayu diangkut. Yang tertinggal adalah ilalang dan kubangan. Saat tajuk bertingkat hilang, kelembapan berubah. Saat rawa dikeringkan, gambut yang menyimpan karbon ribuan tahun mulai teroksidasi. Ini belum kebakaran, tapi bom karbon sudah dinyalakan. Warga yang dulu panen sagu kini menatap tanah retak.
Boven Digoel Kanal Mengalirkan Air dan Bencana
Bergeser ke utara, Boven Digoel jadi laboratorium berikutnya. Di sini, hutan primer menutupi rawa gambut yang luas. Secara silvikultur, rawa gambut adalah sistem yang rapuh: basah ia menyimpan karbon, kering ia melepas bencana.
Untuk food estate 1 juta hektar padi dan 2 juta hektar tebu bioetanol, rawa harus kering. Maka kanal-kanal raksasa dibangun. Air dialirkan keluar. Gambut terpapar udara dan mulai melepas CO2 tanpa perlu api. Data satelit 2024 mencatat kehilangan hutan primer Papua 25.300 hektar, naik 10% dari tahun sebelumnya. PSN Merauke menyumbang 5.936 hektar atau 24% dari angka itu. Januari–Juni 2025 saja, 9.835 hektar hutan primer sudah dibuka.
Hasilnya langsung terasa: tanah yang dulu spons jadi panci. Air hujan tidak terserap, melainkan meluncur jadi banjir. Gambut kering jadi bahan bakar paling mudah terbakar di bumi. Skala pembukaan 3 juta hektar ini 2000 kali lebih besar dari krisis asap Kalimantan 2015. Kronik ini sedang menulis bab kebakaran sebelum apinya ada.
Merauke Padang Ilalang Menggantikan Mesin Pendingin
Tiba di Merauke, kita melihat akhir dari kronik ini: padang ilalang. Secara klimatologis, hutan tropis adalah mesin pendingin bumi. Lewat evapotranspirasi, ia memompa uap air yang membentuk awan dan hujan regional. Satu hektar menyimpan 150–250 ton karbon dan memproduksi oksigen masif.
PSN menukar mesin itu dengan tebu dan padi. Total land clearing sampai Juni 2025: 22.272 hektar hutan, rawa, dan sabana. WRI menghitung, 14,2 juta hektar rencana deforestasi nasional akan melepas 6,5 gigaton CO2, lebih dari dua kali emisi Indonesia tahun 2030. Bioetanol dari tebu di lahan deforestasi menghasilkan emisi lebih besar dibanding bensin yang dihindarkan. Kita mematikan AC untuk menyalakan kipas yang mengeluarkan asap.
Warga Tanah Miring dan Jagebob sudah jadi saksi. Rawa dan sabana penyerap air hilang, pemukiman langganan banjir setiap hujan. Limpasan tanah mengeruhkan sungai dan merusak terumbu karang Raja Ampat. Populasi ikan turun. Deforestasi Papua 2025 melonjak 348% menjadi 77.678 hektar. Yang tersisa setelah mesin dimatikan adalah tanah terbuka yang memantulkan panas.
Manusia di Tengah Reruntuhan
Kronik ini tidak hanya tentang pohon. Laporan koalisi HAM mencatat dampak di Merauke: perampasan wilayah adat Marind Anim, sumber pangan lokal hilang, kekerasan, kriminalisasi. Proses perizinan sering tidak melibatkan masyarakat secara adil. Tanah yang turun-temurun dijaga berubah jadi konsesi. Manusia yang hidup selaras alam dipaksa jadi buruh harian di atas tanahnya sendiri.
Ini trauma kolektif. Rasa dihina, direndahkan, tidak berdaya di rumah sendiri. Ketika ruang hidup hancur, identitas ikut mati. WALHI mencatat hutan primer Papua hilang 688 ribu hektar, dengan deforestasi 2022-2023 mencapai 552 ribu hektar atau 70% total nasional. Ini bukan pembangunan. Ini pengusiran yang dilegalkan.
Ruang Hidup Tidak Tumbuh Lagi dalam Satu Generasi
Dari Mappi ke Merauke, polanya sama: nyatakan tanah kosong, beri izin, kerahkan aparat, angkut hasil, tinggalkan luka. Regenerasi hutan primer dan rawa gambut butuh ratusan tahun. Menanam akasia di atasnya tidak mengembalikan kasuari, tidak mengembalikan air, tidak mengembalikan nama-nama sungai.
Hutan yang hilang tidak pergi sendirian. Ia membawa pergi perlindungan dari banjir, udara sejuk, air bersih, obat, dan martabat. Hutan Papua bukan tanah kosong. Ia tubuh kehidupan. Dan kronik dari Mappi ke Merauke adalah catatan bagaimana tubuh itu dibedah atas nama negara, lalu ditinggalkan membusuk.

0 Komentar