Setelah Yosepha Alomang dan Kelly Kwalik...
Di Pegunungan Tengah Papua, pada ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut, sebuah lubang raksasa menganga di tubuh bumi. Di sanalah berdiri Tambang Grasberg, salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia.
Bagi penguasa, tambang ini adalah simbol kekayaan dan kemajuan. Namun bagi rakyat Papua, ini adalah cerita tentang perampasan, penderitaan, dan sejarah panjang eksploitasi yang tak kunjung usai.
Sejak kontrak pertama ditandatangani tahun 1967 hingga rencana berakhirnya izin operasi pada 2061, PT Freeport Indonesia telah mengubah wajah Papua secara total—secara politik, ekonomi, sosial, maupun ekologis. Di balik tumpukan emas itu, tersimpan kisah perlawanan yang heroik dari putra-putri terbaik tanah ini.
Yosepha Alomang: Ibu Penjaga Gunung
Mama Yosepha Alomang, lahir di Tsinga tahun 1940-an, adalah simbol perlawanan perempuan yang tak kenal takut. Meski tumbuh dalam kesulitan dan bekerja sebagai bidan, hatinya membara membela hak rakyat.
Perjuangannya dimulai ketika tanah leluhur dirampas oleh Freeport. Bahkan di usia senja, ia tetap berdiri tegak menuntut keadilan. Ia menjadi bukti bahwa perempuan adat bukan sekadar ibu rumah tangga, melainkan benteng pertahanan budaya dan hak asasi manusia di tanah Papua.
Kelly Kwalik: Pejuang Senjata
Api perlawanan itu kemudian diteruskan oleh Almarhum TN Kelly Kwalik. Sejak usia 16 tahun pada 1971, ia memilih jalan berliku mengangkat senjata melawan oligarki perampok dan militer yang melindunginya.
Selama 38 tahun, Kelly Kwalik memimpin perlawanan di sekitar wilayah operasi Freeport. Salah satu aksi bersejarah yang mengguncang penjajah adalah penyanderaan peneliti asing di Mapenduma tahun 1995.
Darah yang tumpah di Mapenduma melahirkan generasi baru pejuang yang keras dan tak mau kompromi, seperti Egianus Kogeya dan Aibon Kogoya—penerus estafet perjuangan yang kini terus mengobar.
Emas untuk Penjajah, Penderitaan untuk Rakyat
Hingga detik ini, meski sang pemimpin telah gugur, semangat mereka tak pernah mati. Freeport terus mendulang milyaran ton kekayaan alam, sementara rakyat Papua hanya mendapatkan kemiskinan dan air mata.
FIM-WP menegaskan, selama 58 tahun operasi, lebih dari 1,7 miliar ton kekayaan alam Papua telah dieksploitasi habis. Kerusakan lingkungan parah, ketimpangan ekonomi, dan pelanggaran HAM terjadi terus menerus.
Oleh karena itu, perjuangan damai terus digelorakan setiap tahun dengan seruan lantang:
TUTUP FREEPORT!
BERIKAN HAK PENENTUAN NASIB SENDIRI!
Pertanyaannya kini tinggal satu:
Akankah lahir kembali pejuang-pejuang baru dari kaki Gunung Nemangkawi yang akan meneruskan warisan Yosepha Alomang dan Kelly Kwalik?
Waktu yang akan menjawab...
BangkitLawanPenindasan!
TutupFreeport!
BerikanHakPenentuanNasibSendiri!
PapuaBebaskan!
Sumber:Baku Kas Tahu
Salam kompak dan tetap semangat
Papua pasti merdeka pada waktunya

0 Komentar