Di tanah yang katanya merdeka,
bendera berkibar di langit senja,
lagu kebangsaan menggema di dada
namun sunyi tak pernah benar-benar reda.
Penjajah itu tak lagi datang
dengan kapal dan meriam.
Ia hadir tanpa seragam perang,
tanpa sepatu yang menghentak halaman.
Ia duduk di kursi empuk kekuasaan,
tersenyum dalam pidato panjang,
menjual mimpi tentang kesejahteraan,
sementara rakyat menelan kenyataan yang pahit dan bimbang.
Penjajah itu berbicara bahasa kita,
menyebut diri saudara sebangsa,
namun tangannya lihai meraba
isi lumbung dan keringat jelata.
Di pasar-pasar, harga melambung,
di desa-desa, pangan lokal tergadai,
di kota-kota, suara dibungkam,
kebenaran dicabik, keadilan digadai.
Penjajah itu tak mengikat dengan rantai,
ia mengikat dengan utang dan janji,
membuat kita merasa bebas,
namun takut bersuara sendiri.
Kita berdiri di tanah sendiri,
namun merasa asing dan kecil.
Seperti tamu di rumah sendiri,
yang tak berani menyentuh gagang pintu masa depan.
Wahai negeri,
merdekakah kau jika rakyatmu gentar?
Merdekakah kau jika hukum bisa dibeli,
dan nurani ditukar dengan jabatan dan gelar?
Penjajah dalam negara
tak selalu berwajah asing.
Ia bisa lahir dari rahim yang sama,
namun lupa arti tanah dan air yang dikandungnya.
Maka perjuangan kini bukan lagi
mengusir kapal dari laut biru,
melainkan menyalakan keberanian
di dada yang lama membisu.
Karena kemerdekaan sejati
bukan sekadar tanggal di kalender merah,
melainkan keberanian berkata benar
meski sendirian, meski berdarah.
Pokuai, dari tanah terjajah.

0 Komentar