Kau rajin hadir sebagai hakim, namun absen sebagai kawan di medan juang. Kau vonis "dia mabuk" dan wajarkan kematian, tapi mabuk telermu dalam kolonial kau anggap normal.
Kau menilai kami dengan ukuran gerejamu, padahal imanmu berhenti di pintu kenyamanan. Kau menimbang kami dengan ukuran penjajah: rapi, sopan, loyal, tak ribut, tak melawan. Kau lebih marah pada suara perlawanan daripada pada rantai yang mengikat lehermu sendiri.
Kau bilang kami salah karena hidup kami berantakan, tanpa pernah bertanya siapa yang merusak dunia hingga kami bertahan dengan cara paling pahit.
Kau jijik pada mabuk kami, namun sujud pada sistem yang memabukkanmu dengan janji palsu kesejahteraan. Bahkan kau tak bisa selami mabuk pejuang cara itu cara berkabung di sela derita dan perjuangan tanpa henti.
Kami jijik pada takutmu dinilai buruk oleh penjajah daripada dicatat hina oleh sejarah bangsamu sendiri. Kau ingin pejuang yang lulus seleksi gereja, lulus sensor negara, lulus etika kelas menengah. Atau apa lagi k? Yang tak mengganggu kariermu, tak mengusik beasiswamu, tak meretakkan mimpi kecilmu di dalam kandang kolonial.
Kami mabuk oleh cinta yang melawan arus. Kau mabuk kolonial, mengapung pasrah, menyebut hanyut sebagai keselamatan dan bahagia.
23/2/2026

0 Komentar