Indonesia menghindari penyelesaikan akar konflik Politik Papua, dan memilih mempertahankan pendekatan militer demi kejayaan investasi dan bisnis oligarki Jakarta.
Tidak ada tujuan baik bagi kemanusiaan dan keadilan. Justru krisis kemanusiaan Papua disyukuri sebagai kesempatan pendudukan operasi teritorial militer besar-besaran demi melindungi eksploitasi SDA Papua. Suasana Natal pun ikut dimanfaatkannya.
Untuk menutupinya, retorika propaganda humanis dan pembangunan Papua diucapkan pejabat pemerintah dan Militer berulang-ulang.
Padahal, bahkan saat suasana Natal, kunjungan Panglima TNI kemarin sampaikan membuka teritori militer agar Papua menjadi zona militer besar-besaran, yang diikuti dengan pemekaran DOB.
Disisi lain, Indonesia sedang mencari bahan pembelaan diri dengan menyelesaikan satu dua kasus pelanggaran HAM. Seperti kasus Paniai Berdarah. Ini dibuat hanya untuk menjawab desakan PBB. Satu kasus diadili untuk menutipu ratusan pelanggaran HAM yang sudah dan akan terus terjadi.
Otsus Papua hanyalah nama yang kekuasaannya sudah ambil alih Jakarta. Karena Jakarta melihat Papua hanyalah kebun ekonomi kosong yang harus digarap Jakarta. Para pejabat Papua yang loyal dan bisa dibudaki kini dipilih Jakarta dipakai sebagai chasing, dan yang mengancam dibui atau dibunuh dengan alasan koruptor atau dukung separatis.
Jadi inilah fakta tahun ini yang akan berlanjut semakin masif di tahun 2022. Faksi2 kekuasaan saling rampas Papua dengan kepentingan koorporasinya masing2. Papua jadi penonton, dan kalau hendak merontak siap2 diambil militer. Ironis memang. Papua terancam habis dalam semua aspeknya.
Maka tidak ada jalan lain selain rakyat Papua itu sendiri bangkit. Rakyat dan rakyatlah yang mesti menjadi pejuang bagi diri dan bangsanya. Saling dengar, bersatu dan maju memperkuat sesama. Melihat dan menolak perampasan hak ekonomi politik. Bangun kekuatan politik dan tolak tunduk pada penjajah.
Kita melawan karena benar-benar tanah air milik warisan leluhur kami sedang dijajah pihak asing. Bahwa semua fakta data membuktikan kami sedang habis diatas negeri kami sendiri. Dicap teroris saat kami melawan untuk mempertahankan negeri kami. Oleh bangsa lain yang tidak puas dengan negeri mereka sendiri.
KNPB adalah rakyat itu sendiri. Kami bergerak bersama rakyat untuk mengambil hak kami. Bukan mengambil hak bangsa Jawa, Batak, Sulawesi, dll. Tanah air ini milik seutuhnya bangsa Papua. Bukan bangsa Jawa.
Tahun 2022, perjuangan harus dilanjutkan sebagai agenda rakyat. Agenda prioritas bagi setiap orang Papua. Agar segera memulihkan diri, keluarga, suku dan bangsa. Pulihkan diri di hadapan Tuhan Yesus, agar ia memimpin tubuh bangsa ini bebas dari penindasan bangsa lain yang dirasuki kuasa jahat.
Agar Indonesia bertobat dan mengakui kejahatannya atas bangsa Papua, dan membiarkan bangsa Papua menentukan nasibnya sendiri. Maka perjuangan adalah cara orang Papua mendesak Indonesia pulihkan dirinya dari dosa-dosa sejarah dan niat jahatnya saat ini.
Tahun 2022, teruskan perlawanan dengan damai dan bermartabat. Tolak segala bentuk kekerasan dan kejahatan. Buka ruang damai untuk selesaikan akar masalah Papua.
Kita Harus Mengakhiri
Jubir KNPB
Ones Suhuniap
0 Komentar